Pelayanan
:: Info Rekening
:: Arsip Berita
:: Info Pemadaman
:: Pengaduan
:: Forum
   
Info
:: Profil Perusahaan
:: Info Unit
:: Tips Pelanggan
:: Berita Media
:: Info Tokoh
:: Wisata
:: FAQ
:: Info Manajemen
   
Link
:: PLN Pusat
:: PLN Distribusi Jateng
:: e-Procurement
   
Kontak

 

APJ MAGELANG
Jl. Jend. A. Yani No. 14
Magelang
Telp. (0293) 363355, Jwots : 51127
Fax. (0293) 362144
pln@plnmagelang.co.id

 

 
..:.:.:: Berita Media ::.:.:..

PLN Butuh Rp 570 Triliun untuk Investasi Listrik
08/06/2010.
Jakarta - PT PLN (Persero) membutuhkan dana sebesar US$ 61,3 miliar atau sekitar Rp 570 triliun untuk membangun pembangkit, transmisi dan distribusi tenaga listrik hingga tahun 2019.

Berdasarkan data Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2010-2019 yang diperoleh detikFinance, Selasa (8/6/2010), dana sebesar tersebut hanya mencakup proyek-proyek PLN dan belum termasuk dana untuk proyek listrik swasta (independent power producer/IPP).

Dari seluruh total investasi tersebut, rencananya sebagian akan dialokasikan untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik di tanah air senilai US$ 34,954 miliar. Sisanya sebesar 15,023 miliar akan dialokasikan untuk membangun transmisi serta distribusi senilai US$ 11,274 miliar.

Dari total kebutuhan investasi tersebut, sebesar US$ 40,436 miliar untuk memperkuat sistem kelistrikan di wilayah Jawa Bali. Sisanya untuk wilayah Indonesia Timur dan Barat.

Besarnya investasi untuk memperkuat sistem kelistrikan di tanah air memang tidak dapat dihindari, seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan listrik di tanah air.

Perusahaan listrik pelat merah itu juga memperkirakan kebutuhan energi listrik pada tahun 2019 menjadi 327,3 Terrawatt Hour (TWh) atau tumbuh rata-rata 9,17 per tahun.

Sementara beban puncaknya mencapai 59.302 Megawatt (MW) atau tumbuh rata-rata sebesar 9,55% per tahun. Proyeksi ini ditetapkan dengan catatan pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut mencapai 6,1%.

Pada tahun ini, BUMN listrik itu memprediksikan konsumsi listrik di tanah air mencapai 147,1 Twh dengan beban puncak sebesar 26.371 MW.

Kebutuhan listrik Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 115,1 Twh pada tahun 2010 menjadi 252,5 TWh pada tahun 2019, atau tumbuh rata-rata 8,97% per tahun.

Untuk Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari 11,3 TWh menjadi 20,1 Twh atau tumbuh rata-rata 10,6% per tahun. Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 21,4 TWh pada tahun 2010 menjadi 54,8 TWh pada tahun 2019 atau tumbuh rata-rata 10,2% per tahun.

BUMN listrik itu juga memproyeksikan jumlah pelanggan PLN akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 menargetkan akan menambah jumlah pelanggan baru sebesar 1,06 juta pelanggan sehingga jumlah pelanggan listrik PLN pada tahun ini mencapai 42,1 juta.

Jumlah pelanggan PLN akan terus meningkat menjadi 66 juta pelanggan pada tahun 2019. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi sebesar 66,1% di tahun ini menjadi 90,9% pada tahun 2019.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

PLN: Penghematan Listrik Susah Dicapai Jika Tarifnya Tidak 'Pas'
07/06/2010.
Jakarta - Program mengimbau masyarakat agar berhemat listrik selama ini sulit tercapai, karena pengenaan tarif listrik yang ditetapkan oleh pemerintah maupun DPR belum 'pas'. Selagi masyarakat beranggapan tarif listrik masih murah, maka efisiensi penggunaan listrik sulit dilakukan.

"Hemat listrik tidak akan terjadi tanpa pricing signal yang pas," kata Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PT PLN (Persero) Murtaqi Syamsuddin dalam pemaparannya di Hotel Santika, Jakarta, Senin (7/6/2010).

Murtaqi menjelaskan, pada saat sistem tarif baru (disinsentif-insentif) yang dikenakan kepada pelanggan PLN kelas 6.600 VA ke atas, faktanya telah terjadi fleksibelitas pemakaian daya listrik. Hal ini kata dia, sebagai contoh bahwa tarif listrik sangat menentukan sikap boros atau hemat masyarakat dalam menggunakan listrik.

"Salah satu tools adalah pricing, yang membentuk behaviour pelanggan," kata Murtaqi.

Murtaqi menjelaskan, seperti sudah pengetahuan umum, bahwa kebijakan harga (pricing policy), subsidi, termasuk kenaikan TDL berada di luar PLN. Pemerintah maupun DPR memegang sepenuhnya kebijakan tersebut.

"Kelistrikan 100% regulated, bukan hanya di pemerintah tapi DPR juga," jelas Murtaqi.

PLN mengklaim tarif listrik saat ini harga jualnya mencapai (rata-rata) Rp 657 per kwh, sedangkan biaya produksi PLN mencapai Rp 1.200 per kwh, artinya ada selisih harga yang menjadi subsidi sebesar Rp 543 per kwh.

Seperti diketahui rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sudah di depan mata. Saat ini, pemerintah maupun PLN telah membuat skim kenaikan termasuk dengan berbagai opsi kelas pelanggan-pelanggan yang akan dinaikan TDL-nya dan besarannya.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

Ingin Saingi Kehandalan Listrik Singapura, TDL Harus Dinaikkan
07/06/2010.
Jakarta - PT PLN (Persero) mengungkapkan untuk bisa menyamai tingkat kehandalan listrik (tak byar pet) seperti negara-negara tetangga Malaysia dan Singapura yang memiliki kapasitas listrik terpakai dan cadangannya aman maka diperlukan tarif dasar listrik (TDL) 20% di atas biaya produksi.

Sementara saat ini kapasitas listrik di Indonesia justru defisit dengan tarif listrik jauh di bawah biaya produksi listrik.

"Kalau seandainya seluruh Indonesia tidak padam, itu kita hanya punya kapasitas pas-pasan. Kalau ada perusahaan listrik yang sehat mesti punya cadangan, misalnya Singapura antara yang nyala dengan siap-siap kapasitasnya sama," jelas Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo dalam pemaparannya di Hotel Santika, Jakarta, Senin (7/6/2010).

PLN mengklaim TDL saat ini harga jualnya mencapai (rata-rata) Rp 657 per kwh, sedangkan biaya produksi PLN mencapai Rp 1.200 per kwh, artinya ada selisih harga yang menjadi subsidi sebesar Rp 543 per kwh.

Dikatakannya tarif 20% di atas biaya produksi bukan hanya menciptakan kehandalan bagi PLN, namun sebagai perusahaan tentunya akan memperkuat kondisi keuangan perseroan. Menurutnya beberapa pun subsidi listrik yang diberikan pemerintah hanya untuk memenuhi operasionalnya PLN saja.

"Selama kita bicara subsidi, kita tidak bisa bicara untuk tumbuh," tegas Dewo.

Ditegaskannya selama harga jual listrik masih lebih rendah dari biaya produksi maka tak ada keuntungan bagi PLN sebagai sebuah perusahaan. Justru yang untung adalah pemerintah karena subsidinya akan rendah (APBN) alias berkurang.

Selama ini kata dia, langkah investasi PLN tidak menggunakan dana subsidi namun pakai dana lain termasuk pinjaman seperti obligasi. Sementara subsidi murni hanya untuk biaya operasional PLN.

Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan investasi kelistrikan mencapai 30.000 MW, atau setiap tahunnya butuh daya listrik 6.000 MW atau capex yang diperlukan per tahunnya sebesar US$ 6 miliar.

"PLN kalau ngandalin subsidi, bisnisnya nggak akan tumbuh," ucapnya.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

9,1 % Penduduk Indonesia Belum Nikmati Listrik di 2019
05/06/2010.
Jakarta - PT PLN (Persero) menargetkan 90,9% penduduk Indonesia sudah teraliri listrik pada tahun 2019. Ini menunjukkan masih ada 9,1 % penduduk di tanah air belum menikmati listrik pada tahun tersebut.

Berdasarkan data Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2010-2019 yang diperoleh detikFinance, Sabtu (5/6/2010), BUMN listrik itu memproyeksikan jumlah pelanggan PLN akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2010 menargetkan akan menambah jumlah pelanggan baru sebesar 1,06 juta pelanggan sehingga jumlah pelanggan listrik PLN pada tahun ini mencapai 42,1 juta.

Jumlah pelanggan PLN akan terus meningkat menjadi 66 juta pelanggan pada tahun 2019. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi sebesar 66,1% di tahun ini menjadi 90,9% pada tahun 2019.

Penetapan target tersebut dengan menggunakan asumsi jumlah penduduk sebesar 235,5 juta orang pada tahun ini menjadi 257,7 orang pada tahun 2019.

Perusahaan listrik pelat merah itu juga memperkirakan kebutuhan energi listrik pada tahun 2019 menjadi 327,3 Terrawatt Hour (TWh) atau tumbuh rata-rata 9,17 per tahun.

Sementara beban puncaknya mencapai 59.302 Megawatt (MW) atau tumbuh rata-rata sebesar 9,55% per tahun. Proyeksi ini ditetapkan dengan catatan pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut mencapai 6,1%. Pada tahun ini, BUMN listrik itu memprediksikan konsumsi listrik di tanah air mencapai 147,1 Twh dengan beban puncak sebesar 26.371 MW. (epi/gah)
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

25 Proyek Listrik Swasta Dilanjutkan
04/06/2010.
Setelah berhenti sejak tahun 2008 lalu, pembangunan 25 proyek listrik swasta (Independen Power Plant/IPP) akhirnya bisa segera dilanjutkan lagi pada akhir Juli mendatang. Adapun 10 proyek lainnya diberi tenggat waktu hingga Agustus mendatang untuk negosiasi ulang bersama PT Perusahaan Listrik Negara dan diverifikasi kembali oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Dari 25 proyek, sebanyak 15 bisa dimulai pembangunannya akhir Juni depan.

Keputusan itu diambil Wakil Presiden Boediono saat memimpin rapat terbatas tentang proyek listrik swasta di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (4/6/2010).

Dalam rapat itu hadir sejumlah menteri Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto dan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan.

"Dari 25 proyek, sebanyak 15 bisa dimulai pembangunannya akhir Juni depan. Sedangkan 10 proyek masih dalam proses dan diberi batas waktu Agustus mendatang," tandas Dahlan Iskan.

Menurut Dahlan, dari 15 proyek sebanyak dua proyek sudah final, yaitu PLTU di Tanjung Pinang dan PLTU di Embalut. Namun, sebuah PLTU di Pulau Bangka, dibatalkan karena harga beli listriknya terlalu rendah. "Sebanyak 12 proyek lainnya dalam proses verifikasi BPKP," tambahnya.

Pelibatan BPKP, menurut Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat, untuk memastikan agar proyek listrik swasta tersebut tidak ada kolusi dan persengkongkolan serta prosedurnya benar-benar dijalankan oleh PLN.

"Dari beberapa tahun lalu, proyek ini macet dan tidak ada pejabat yang berani menjalankan dan penuh keraguan. Dengan melibatkan BPKP, diharapkan proyek listrik swasta ini dapat cepat dilanjutkan," kata Yopie.

PLN sebelumnya diinstruksikan Wapres Boediono untuk melakukan renegosiasi dengan 25 perusahaan penyedia listrik swasta di antaranya terkait pembelian daya listrik yang dihasilkan proyek listrik swasta tersebut.

Jadi pelajaran

Sementara, menurut Dahlan, Wapres Boediono juga meminta kepada PLN di masa datang dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kasus tender proyek listrik 10.000 MW tahap pertama agar proyek listrik pada proyek listrik 10.000 MW tahap kedua tidak lagi terkendala.

"Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita semua jangan sampai tender yang akan datang bermasalah lagi. Jangan sampai ujung-ujungnya IPP terkendala lagi," ujar Dahlan.

Dikatakan Yopie Hidayat, kasus proyek listrik bermasalah terjadi saat pemerintah melakukan tenderkan proyek listrik 10.000 MW tahap pertama menjelang akhir masa Kabinet Indonesia Bersatu pertama.

"Saat itu pelaksanaan tender sudah selesai, dan ada 65 IPP untuk melaksanakan proyek pembangkit listrik yang nanti akan dibeli oleh PLN. Akan tetapi, pada perkembangannya ke 65 IPP tersebut tidak dapat melanjutkan proyek pembangkit listrik, yang sebab utamanya tidak ada lagi kesesuaian harga karena pada saat tender harga yang ditawarkan terlalu murah," kata Yopie.

Sekali pun para pemenang tender sudah memenangkan tender, akan tetapi perusahaan menyerah jika tetap membangun proyek tersebut sesuai harga tender yang lama.

"Akhirnya, mereka tidak sanggup dan menghentikan proyek, Sebab, sejumlah harga seperti besi naik karena adanya krisis pada tahun 2008. Namun, dengan diputuskannya sejumlah IPP untuk melakukan negosiasi ulang, maka diharapkan kepada perusahaan bisa segera menyetujui kontrak ulang pada akhir Juli dan Agustus mendatang," demikian Yopie.
Sumber : Kompas.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

PLN Amankan Listrik Saat Piala Dunia
03/06/2010.
Jakarta - PT PLN (Persero) berusaha mengamankan listrik selama Piala Dunia 2010 agar tidak terjadi pemadaman alias byar pet. Ekspektasi masyarakat yang tinggi terhadap listrik agar tidak padam pada saat Piala Dunia mesti disikapi serius.

Dirut PLN Dahlan Iskan secara tersirat menyatakan konsistensi PLN menjamin listrik tidak padam bagi masyarakat tidak hanya pada saat-saat gelaran akbar seperti Piala Dunia, namun sejatinya PLN bertugas mengamankan agar listrik tidak padam di luar ajang Piala Dunia.

"He he berarti setelah piala dunia boleh byar pet?," kata Dirut PLN Dahlan Iskan berseloroh kepada detikFinance, Kamis (3/6/2010)

Sementara itu GM PLN Distribusi Jakarta-Tangerang Purnomo Willy menambahkan khusus untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya dipastikan tak ada pemadaman listrik khususnya pada saat gelaran Piala Dunia 2010. Hal ini karena daya listrik yang ada untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya mencukupi.

"Kalau pemadaman bergilir tidak ada karena daya mencukupi," tegas Willy.

Meski Willy menyatakan tidak menutup kemungkinan terjadinya gangguan-gangguan listrik yang bisa memicu pemadaman. Pihaknya bertekad jika ada gangguan akan segara diusahakan untuk secepatnya diatasi.

"Kami menyiagakan seluruh petugas untuk mengantisipasi gangguan," ucapnya.

Rencananya gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan akan digelar pada 11 Juni-11 Juli 2010.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

Nonton Piala Dunia, Konsumsi Listrik Jawa-Bali Naik 5,8%
03/06/2010.
Jakarta - Ajang Piala Dunia 2010 yang diselenggarakan mulai 11 Juni hingga 11 Juli mendatang diperkirakan akan membuat konsumsi listrik di sistem Jawa Bali naik hingga 5,8% dari kondisi normal.

"Menurut proyeksi kenaikan beban di Jawa Bali sekitar 5,8 % dari 16.500 MW pada waktu beban puncak pukul 17.00-22.00 WIB," ujar Manager Humas PLN, Bambang Dwiyanto saat dihubungi detikFinance, Kamis (3/6/2010).

Adapun langkah-langkah yang dilakukan BUMN listrik itu untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman yaitu menjaga keandalan sistem pembangkitan dan transmisi dengan mengatur jadwal pemeliharaan, serta mengurangi penurunan kemampuan (derating) pembangkit, sehingga tersedia cadangan yang cukup.

Di samping itu, lanjut Bambang, PLN juga akan menyelenggarakan acara nonton bareng di unit-unit kerjanya disesuaikan dengan kondisi unit setempat.

"Dengan nonton bareng diharapkan mengurangi pemakaian TV sehingga menurunkan beban," jelasnya.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

PLN Habiskan US$ 119 Juta Untuk Jaringan Listrik Jawa-Bali
03/06/2010
Jakarta - PT PLN (Persero) butuh dana US$ 119 juta untuk proyek peningkatan distribusi listrik di wilayah Jawa-Bali. Proyek ini rencananya akan selesai pada 2012.

Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang mengatakan dana sebesar itu akan digunakan untuk pemasangan jalur distribusi baru, pemasangan transformator (trafo) baru, dan kapasitor-kapasitor baru.

"Proyek ini tujuannya untuk memasang trafo-trafo sisipan terutama bagi pelanggan yang daerah jaringannya rendah. Kedua untuk melayani susut distribusi. Kita harap susut di jaringan bisa sampai 2 persen nantinya," ujarnya di kantor Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, (3/6/2010).

Untuk mendanai pelaksanaan proyek ini, PLN mendapatkan kucuran pinjaman senilai US$ 50 juta dari Agence Francaise de Development (AFD) Perancis yang kesepakatannya ditandatangani hari ini, pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) sebesar US$ 50 juta yang akan ditandatangani pekan depan, dan dari kas internal PLN sendiri senilai US$ 19 juta.

Ia menjelaskan, proyek ini akan dimulai tahun ini dengan jangka waktu penyelesaian 2 tahun. "Kalau semua sudah ditandatangani, kita harapkan bulan depan bisa dimulai. Ini prosesnya dua tahun jadi sekitar 2012 baru selesai," jelasnya.

Menurutnya, proyek ini sebenarnya telah disiapkan sejak tahun lalu.

"Sudah dipersiapkan sejak tahun lalu, trafo dan kabel sudah siap lelang, akan 2 tahun kalau tahun ini mulai, tandanya 2012," tukasnya.

RI Butuh Investasi Listrik Rp 80 Triliun

Selain itu, Nasri mengatakan Indonesia butuh dana investasi Rp 70-80 triliun untuk sektor listrik di seluruh Indonesia hingga tahun 2019.

"Sampai tahun 2019 rata-rata setiap tahun investasi sekitar US$ 7-8 miliar dolar," ujarnya

Menurut Nasri, dari jumlah investasi yang diperlukan tersebut, sekitar Rp 50-60 triliun diusahakan oleh PT PLN. Selebihnya diusahakan pihak swasta. Namun, Nasri akui PT PLN hanya mampu membiayai sekitar 15-20%.

Sisanya sebagian ditanggung APBN dan terdapat pula pinjaman tanpa bunga dari pemerintah. Dari APBN-P 2010, PLN mendapat anggaran sebesar Rp 2,6 triliun dengan pinjaman dari pemerintah sebesar Rp 7,5 triliun.

"Ya mudah-mudahan saja tahun depan kita bisa dapat Rp 10 triliun," harap Nasri.

Nasri menyatakan walaupun dana yang ada tersebut terlihat masih kurang, tetapi kebutuhan investasi sebesar Rp 50-60 triliun itu sudah terpenuhi untuk tahun ini. Hal tersebut disebabkan adanya beberap pinjaman dari luar negeri.

"Sisanya ya kita cari dana sendiri. Apalagi untuk geothermal, banyak lembaga yang berlomba untuk membiayai ini. Seperti ADB, World Bank, JICA. Tentunya kita selektif mencari mana yang pembiayaannya murah dan grace periode-nya panjang," jelasnya.

Untuk itu, Nasri menyatakan pihaknya optimis dapat memenuhi kebutuhan listrik Indonesia sebesar 9% untuk tahun ini dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.

"Permintaan 9% satu tahun tapi ada juga beberapa daerah yang 12%. Cukup tapi kalau ada pelanggan baru ini yang nggak cukup perlu infrastruktur baru,," tukasnya.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --

Konsumsi Listrik Jawa-Bali Tembus Rekor
02/06/2010
Jakarta - Konsumsi listrik di wilayah Jawa-Bali telah mencetak rekor baru yaitu 17.894 Megawatt atau naik sebesar 12% dibandingkan tahun lalu.

"Kemarin terjadi rekor baru konsumsi listrik di Jawa-Bali menjadi 17.894 MW. Di Sumut dalam 3 bulan ini saja naik 150 MW," ujar Direktur Utama PLN Dahlan Iskan dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (2/6/2010)

Di satu pihak, lanjut Dahlan, fakta ini membuat PLN harus meningkatkan kemampuannya baik dari sisi pasokan dan pelayanan, namun hal ini juga menjadi suatu pertanda baik bahwa ekonomi di tanah air tumbuh pesat.

Dahlan juga mengakui, meskipun saat ini pasokan listrik di sistem Jawa Bali memadai untuk memenuhi kenaikan konsumsi listrik tersebut, namun pihaknya tetap merasa khawatir jika kenaikan ini terus terjadi dan tidak terkendali.

"Bagi PLN, ini bikin jantung dag dig dug juga. Karena meskipun pasokan cukup tapi kalau naik terus lagi mana tahan...hehehe...," katanya.
Sumber : Detik.com -- Updated : 6-/-0/2010 15: 1:3: --